2026 sepertinya memang menjadi tahun yang sangat sibuk bagi Capcom. Requiem di awal tahun, Pragmata dan Monster Hunter Stories 3 pada pertengahan, dan akhirnya akan ditutup oleh Onimusha: Way of The Sword. Tapi setelah 20 tahun menunggu kebangkitan Onimusha dan setelah 3 judul tahun ini yang sangat sukses secara kritik dan komersil, apakah Onimusha bisa menjadi grand closing yang diharapkan?
Reboot? Bukan Reboot?
Perlu
diklarifikasi bahwa penulis memang belum pernah memainkan series Onimusha
terdahulu dan Capcom sendiri mengkonfirmasi bahwa Way of The Sword adalah
sebuah judul standalone yang tidak mengharuskan pemainnya untuk amat
sangat familiar dengan 4 series terdahulunya. Dengan jarak era
yang cukup besar diantara Onimusha 1-2-3-4 dan rilisan terbaru ini, sebenarnya
mudah saja untuk menganggap Way of The Sword sebagai sequel standalone dengan
karakter baru. Toh ini juga bukan hal yang asing mengingat Onimusha 1-2-3-4
memiliki sejumlah karakter utama lain selain Samanosuke Akechi. Tapi bagi
penulis sendiri, lebih mudah untuk mengganggap Way of The Sword sebagai reboot
dan perjalanan baru bagi protagonis baru juga: Miyamoto Musashi.
Versi Fiksi Karakter Sejarah
Masih mengikuti formula terdahulu, Way of The Sword dipenuhi
oleh karakter-karakter asli versi fiksional dari sejarah Samurai Jepang dan
salah satunya adalah sang protagonis utama: Miyamoto Musashi yang kali ini wajahnya
didasarkan pada mendiang Toshiro Mifune; aktor berkebangsaan Jepang yang sering
berperan sebagai Samurai khususnya pada film-film klasik karya Akira Kurosawa.
Sutradara Way of The Sword, Satoru Nihei, memutuskan untuk menggunakan wajah
Mifune setelah mencoba memvisualisasikan apa yang membuat seorang Samurai
terlihat keren. Way of The Sword mulai dikembangkan pada tahun 2020 dan butuh 2
tahun bagi Capcom untuk akhirnya mendapat izin dari Mifune Productions untuk
menggunakan wajah Mifune sebagai Musashi. Sebuah usaha yang terbayar manis
karena RE Engine juga berhasil memvisualisasikannya dengan sangat baik. Micro
Expressions sepertinya adalah kata kuncinya. Karena setiap perubahan raut
wajah Musashi dibuat dengan sangat detail dan indah, ditambah dengan karakter
Musashi yang tengil dan sedikit arogan membuatnya semakin menyenangkan untuk
disaksikan. Dan ini tidak hanya berlaku untuk Musashi saja. Karakter-karakter
utama lainnya juga mendapat perlakuan yang sama. Sebuah lompatan yang sangat
mengagumkan dari Resident Evil: Requiem ataupun Pragmata.
Cerita
Way of The Sword dibuka oleh Musashi, seorang Ronin, yang
datang ke Kyoto dan terang-terangan menantang seorang kepala sekolah Samurai
untuk membuktikan dirinya sebagai Samurai yang bisa kuat atas usaha dan
kekuatannya sendiri. Disaat yang bersamaan, Genma, salah satu makhluk penghuni
neraka, memulai invasinya terhadap Kyoto. Musashi terbunuh oleh pasukan Genma
namun ketika ia hendak memulai perjalanannya menuju neraka, ia dihentikan oleh
sesosok misterius yang memberikannya Oni Gauntlet dan membangkitkannya
dari kematian. Untuk mendapatkan jawaban soal kondisi barunya, ia bertemu
dengan Ono No Takamura, sesama Onimusha berusia ratusan tahun yang menjelaskan
soal Genma, gerbang neraka, Oni dan bagaimana Musashi sekarang adalah seorang
Onimusha yang mengemban tugas menghentikan invasi Genma di Kyoto dan mencegah
gerbang neraka terbuka agar tidak terjadi invasi yang lebih besar lagi.
Sepanjang cerita, kita akan bertemu dengan karakter-karakter
lain. Okuni, murid Takamura yang menyimpan dendam pribadi terhadap Genma,
Shizuka, Oni yang bersemayam di dalam gauntlet Musashi dan akan menjadi
suara companion sepanjang cerita, Lady Murasaki, seorang penulis ghaib,
Sasaki Ganryu sebagai rival Musashi yang menerima Oni Gauntlet dari sosok
misterius yang sama, serta tokoh-tokoh lain seperti boss dan para antagonis
lain. Semua karakter tambahan ini diperankan dengan sangat baik, dan
masing-masing juga membantu Musashi berkembang sebagai karakter dan sebagai
seorang Samurai mulai dari motivasi sampai peringatan soal apa yang akan
terjadi jika Musashi membiarkan dirinya dibutakan oleh rasa haus akan kekuatan.
Tidak hanya karakter saja, Oni Gauntlet dan semua kekuatan yang akan
kita dapatkan sepanjang cerita juga menjadi cara yang menarik untuk
memperhatikan bagaimana Capcom mengembangkan karakter Musashi. Oni Gauntlet
memberikan kekuatan yang instan, sesuatu yang jelas tidak disukai oleh Musashi.
Hal ini kemudian berhasil dikembangkan dengan sangat baik oleh Capcom karena
kita akan melihat bagaimana hal ini akan mempengaruhi cara pandang Musashi
terhadap kekuatan dan apa itu artinya hidup dalam jalan pedang. Sekali lagi,
semua tidak terlepas dari kehadiran pada karakter tambahan yang kuat dengan
masing-masing karakter juga memiliki akhir arc yang amat sangat memuaskan.
Bahkan penulis juga berani mengatakan pengembangan karakter Musashi ini juga
tercermin dengan baik dalam combat karena meskipun Musashi mendapat
kekuatan instant dari Oni Gauntlet, semua tidak akan berguna jika
pemain/Musashi tidak terus berlatih dan belajar untuk menggunakan teknik dan
kekuatan tersebut.
Combat Yang Memuaskan
Bicara soal combat, selain serangan dasar one-handed
dan two-handed kita akan sangat bergantung pada 4 elemen dasar lainnya. Deflect
akan membantu mengurangi energi musuh hingga mereka siap untuk dieksekusi, Parry
berfungsi untuk menghilangkan keseimbangan musuh dan setelah upgrade
juga berfungsi memanaskan pedang Musashi untuk damage ekstra, dodge
seperti judulnya adalah untuk menghindar namun setelah upgrade akan ditambah
dengan gauge yang bisa diisi untuk counter-attack dan Issen,
mekanik terbaik diantara semuanya. Sebuah counter-attack super kuat yang
bisa dilakukan tepat sebelum musuh menyerang, sebuah mekanisme high risk,
high reward yang sangat memuaskan dan sangat-sangat well designed
apalagi ketika upgrade chain issen terbuka nantinya dan jumlah Genma
yang bisa diissen oleh Musashi bertambah semakin banyak dilengkapi dengan
animasi yang super fluid nan stylish. Bahkan tidak hanya serangan
pedang saja, pada akhirnya juga akan ada upgrade yang memungkinkan
Musashi melakukan Issen terhadap serangan proyektil seperti anak panah
contohnya
Bukan berarti 3 mekanik lainnya tidak memuaskan. Bahkan jika
kebanyakan pemain Onimusha klasik atau para perfeksionis pasti ingin
menjalankan sebuah run issen only agar lebih menantang, menurut penulis akan
jauh lebih memuaskan jika pemain mencampurkan ke 4 mekanik ini dan menentukan
mana yang paling cocok untuk digunakan berdasarkan situasi atau tipe serangan
musuh. Ini khususnya sangat kentara pada boss fight karena setelah
beberapa kali berhadapan dengan boss, akan sangat bisa diperhatikan beberapa
serangan seakan dirancang untuk reaksi tertentu. Misalkan jika boss
mengeluarkan serangan fisik tanpa menggunakan kapak/pedangnya, akan lebih rewarding
jika pemain menggunakan dodge untuk mengisi gauge counter-attack. Tapi
sekali lagi, meskipun terlihat seakan dirancang secara khusus, menggunakan
reaksi lain juga tidak akan salah karena tetap akan disajikan dengan animasi
yang sangat keren. Favorit penulis sendiri adalah ketika berhasil melakukan parry
dan terlihat jelas bagaimana pedang Musashi memanas akibat parry
tersebut.
Ada 2 mekanik combat lainnya yang bersifat minor yaitu blade
locking dan blade barrage. Blade Locking cukup standard
dimana pemain hanya harus melakukan button mashing untuk keluar dari
situasi ini dan memberikan reward yang sama dengan melakukan deflect dan
parry. Sementara blade barrage adalah semacam QTE dimana pemain
harus melakukan serangan yang berbeda dari musuh agar berhasil keluar. Sebagai
contoh jika musuh melakukan serangan two-handed, maka harus dibalas
dengan serangan one-handed. Kedua situasi ini bisa terjadi pada Genma
biasa atau boss, namun Blade Barrage juga dibarengi dengan animasi dan
koreografi yang sangat indah dan memberikan rasa kepuasan yang lebih ketimbang Blade
Locking.
Mekanik aktif lainnya adalah Oni Armanent. Ini adalah serangkaian senjata spesial buatan Oni dengan kekuatan dan efeknya masing-masing namun memerlukan jiwa biru dari musuh untuk bisa diaktifkan. Namun cukup disayangkan senjata-senjata ini tidak memiliki lebih dari 1 moveset sebelum harus diisi lagi oleh jiwa biru. Untungnya hal ini tertolong dengan koreografi yang stylish dan upgrade yang menambah efektifitas mereka.
Terlalu Mudah?
Semenjak demonya dirilis, ada concern yang mengatakan
bahwa game ini terlalu mudah. Apalagi cukup jelas terlihat bahwa Genma juga
cenderung pasif dan seakan menunggu giliran untuk menyerang Musashi. Meskipun
musuh yang pasif ini adalah salah satu kekurangannya dan tingkat kesulitan
adalah sesuatu yang subjektif, penulis cukup senang untuk melaporkan bahwa
hasil akhirnya tidak sesederhana itu.
Jam-jam awal Way of The Sword bisa dianggap sebagai tutorial.
Kyoto dan misi-misi cerita awal akan membantu mengajarkan pemain untuk menguasi
teknik-teknik dasar. Seiring waktu, Genma juga akan menjadi semakin kuat.
Mereka akan memiliki serangan yang lebih kuat, timing issen yang
lebih sempit, dan tentu variasi musuh yang bahkan tidak akan langsung lumpuh
hanya dengan 1 issen saja. Bisa dijamin, jika diawal pemain akan merasa
arogan dan kuat, hal itu tidak akan bertahan lama dan Way of The Sword
perlahan-lahan akan membuat pemain merasa humble apalagi bagi mereka
yang mengabaikan mekanik-mekanik dasar.
Tapi hal ini juga menimbulkan sebuah masalah dari sisi upgrade.
Upgrade Terasa Pointless
Way of The Sword menyediakan 3 kategori upgrade.
Perlengkapan Musashi, Ability Musashi, dan Kekuatan Oni termasuk juga Oni
Armanent. Yang mejadi masalah adalah perlengkapan Musashi yang juga terbagi
lagi menjadi 3 yaitu Armor, Pedang, dan Oni Gauntlet. Seharusnya ketiga hal ini
akan membuat Musashi semakin kuat namun karena para Genma dan Boss juga
seakan-akan ikut menguat dengan level yang sama dengan Musashi, upgrade
menjadi terasa tidak berguna. Serangan Musashi terasa sama saja, boss tidak
lebih cepat bisa dikalahkan, kita masih tetap harus bergantung dengan teknik
yang kita pelajari, yang ada proses upgrade ini malah terasa buang-buang
waktu mengingat materialnya yang harus kita cari dengan melakukan eksplorasi
hub Kyoto. Yang mana ini akan bersambung dengan masalah berikutnya: semi-open
world.
Semi-Open World
Satu hal yang tidak disangka-sangka hadir pada Way of The
Sword adalah Semi-Open World lengkap dengan area-area yang terkunci dan akan
terbuka sesuai progress, side quests, dan resource yang bisa kita temukan
dengan eksplorasi. Meskipun Kyoto bukanlah tempat yang terlalu besar untuk
dieskplorasi, kehadirannya cukup untuk membuat jam-jam awal terasa lambat. Side
quest, atau lebih tepatnya chance encounters dengan para warga Kyoto
terasa tidak menarik sama sekali karena seringnya kita hanya akan diminta untuk
datang ke poin a, basmi genma, lapor balik, dan selesai. Namun pujian perlu
disampaikan pada side quest Mysteries of Kyoto yang akan kita jalankan
atas perintah Lady Murasaki karena justru side quests ini malah
memberikan cerita-cerita horror singkat berdasarkan dari mitologi
Jepang, apalagi diperkuat dengan pendapat akhir dari Lady Murasaki pada setiap
akhirnya dan reaksi komedik Musashi terhadap legenda dan situasi yang terasa
absurd ini. Namun sayangnya lagi, side quest ini hanya memberikan reward
kosmetik saja. Eksplorasi Kyoto ini juga dilengkapi dengan rift tempat
para Genma menyebrang dari neraka ke dunia manusia dan pemain akan bisa
menghancurkannya dengan membunuh para Genma dan menyerap rift setelah
semuanya selesai. Lama kelamaan, pembasmian rift ini terasa repetitif
apalagi mereka akan selalu memunculkan 2 tipe miniboss yang sama. Well,
penulis memiliki satu miniboss favorit karena memberikan combat yang
memuaskan. Tapi jika dilihat dengan lebih luas, dipaksa untuk selalu melawan 2
boss yang sama secara berulang-ulang demi resource pasti akan terasa
membosankan juga.
Performa PC
Sepertinya tidak perlu banyak yang dibahas mengenai game
jebolan RE Engine pada PC. Performa pada PC sangat optimized dan sepertinya
memiliki beban yang lebih ringan ketimbang Pragmata ataupun RE: Requiem. Dengan
art style gamenya, ray tracing sepertinya juga tidak terlalu perlu
diaktifkan. Dengan 5070 Ti dan DLSS Performance Super Resolution Model L tanpa
frame generation dan resolusi 4K, penulis bisa mendapatkan FPS diatas 60. Namun
sepertinya ada bug yang menyebabkan timing issen menjadi lebih sempit
jika mendapat FPS diatas 60. Belum lagi ada sebuah bug yang menyebabkan crash
jika mengunjungi bagian Kyoto paling ujung kiri jika menggunakan settingan rata
kanan. Semoga hal ini bisa segera diperbaiki pada patch selanjutnya.
Kesimpulan
Capcom berhasil membangkitkan Onimusha dengan cukup
sempurna, dengan kekurangan-kekurangan yang sangat bisa dimaafkan dan menurut
penulis, Way of The Sword berhasil menjadi grand closing 2026 bagi
Capcom. Langkah awal yang baik juga mengingat komitmen Capcom baru-baru ini
yang ingin membangkitkan IP klasik mereka. Bagi yang ingin terjun ke dalam
dunia Onimusha, atau yang sekedar ingin memainkan judul action hack-and-slash
yang solid bertemakan Jepang dan Samurai, Way of The Sword adalah
pilihan terbaik saat ini, bahkan dengan full price sekalipun.
