Sukses Bangkit Kembali! | Review Onimusha: Way of The Sword (2026)

2026 sepertinya memang menjadi tahun yang sangat sibuk bagi Capcom. Requiem di awal tahun, Pragmata dan Monster Hunter Stories 3 pada pertengahan, dan akhirnya akan ditutup oleh Onimusha: Way of The Sword. Tapi setelah 20 tahun menunggu kebangkitan Onimusha dan setelah 3 judul tahun ini yang sangat sukses secara kritik dan komersil, apakah Onimusha bisa menjadi grand closing yang diharapkan?

Reboot? Bukan Reboot?

vlcsnap-2026-09-05-19h42m42s442

Perlu diklarifikasi bahwa penulis memang belum pernah memainkan series Onimusha terdahulu dan Capcom sendiri mengkonfirmasi bahwa Way of The Sword adalah sebuah judul standalone yang tidak mengharuskan pemainnya untuk amat sangat familiar dengan 4 series terdahulunya. Dengan jarak era yang cukup besar diantara Onimusha 1-2-3-4 dan rilisan terbaru ini, sebenarnya mudah saja untuk menganggap Way of The Sword sebagai sequel standalone dengan karakter baru. Toh ini juga bukan hal yang asing mengingat Onimusha 1-2-3-4 memiliki sejumlah karakter utama lain selain Samanosuke Akechi. Tapi bagi penulis sendiri, lebih mudah untuk mengganggap Way of The Sword sebagai reboot dan perjalanan baru bagi protagonis baru juga: Miyamoto Musashi.

Versi Fiksi Karakter Sejarah

vlcsnap-2026-09-04-18h57m06s219

Masih mengikuti formula terdahulu, Way of The Sword dipenuhi oleh karakter-karakter asli versi fiksional dari sejarah Samurai Jepang dan salah satunya adalah sang protagonis utama: Miyamoto Musashi yang kali ini wajahnya didasarkan pada mendiang Toshiro Mifune; aktor berkebangsaan Jepang yang sering berperan sebagai Samurai khususnya pada film-film klasik karya Akira Kurosawa. Sutradara Way of The Sword, Satoru Nihei, memutuskan untuk menggunakan wajah Mifune setelah mencoba memvisualisasikan apa yang membuat seorang Samurai terlihat keren. Way of The Sword mulai dikembangkan pada tahun 2020 dan butuh 2 tahun bagi Capcom untuk akhirnya mendapat izin dari Mifune Productions untuk menggunakan wajah Mifune sebagai Musashi. Sebuah usaha yang terbayar manis karena RE Engine juga berhasil memvisualisasikannya dengan sangat baik. Micro Expressions sepertinya adalah kata kuncinya. Karena setiap perubahan raut wajah Musashi dibuat dengan sangat detail dan indah, ditambah dengan karakter Musashi yang tengil dan sedikit arogan membuatnya semakin menyenangkan untuk disaksikan. Dan ini tidak hanya berlaku untuk Musashi saja. Karakter-karakter utama lainnya juga mendapat perlakuan yang sama. Sebuah lompatan yang sangat mengagumkan dari Resident Evil: Requiem ataupun Pragmata.

Cerita

vlcsnap-2026-09-16-00h05m21s365

Way of The Sword dibuka oleh Musashi, seorang Ronin, yang datang ke Kyoto dan terang-terangan menantang seorang kepala sekolah Samurai untuk membuktikan dirinya sebagai Samurai yang bisa kuat atas usaha dan kekuatannya sendiri. Disaat yang bersamaan, Genma, salah satu makhluk penghuni neraka, memulai invasinya terhadap Kyoto. Musashi terbunuh oleh pasukan Genma namun ketika ia hendak memulai perjalanannya menuju neraka, ia dihentikan oleh sesosok misterius yang memberikannya Oni Gauntlet dan membangkitkannya dari kematian. Untuk mendapatkan jawaban soal kondisi barunya, ia bertemu dengan Ono No Takamura, sesama Onimusha berusia ratusan tahun yang menjelaskan soal Genma, gerbang neraka, Oni dan bagaimana Musashi sekarang adalah seorang Onimusha yang mengemban tugas menghentikan invasi Genma di Kyoto dan mencegah gerbang neraka terbuka agar tidak terjadi invasi yang lebih besar lagi.

 

Sepanjang cerita, kita akan bertemu dengan karakter-karakter lain. Okuni, murid Takamura yang menyimpan dendam pribadi terhadap Genma, Shizuka, Oni yang bersemayam di dalam gauntlet Musashi dan akan menjadi suara companion sepanjang cerita, Lady Murasaki, seorang penulis ghaib, Sasaki Ganryu sebagai rival Musashi yang menerima Oni Gauntlet dari sosok misterius yang sama, serta tokoh-tokoh lain seperti boss dan para antagonis lain. Semua karakter tambahan ini diperankan dengan sangat baik, dan masing-masing juga membantu Musashi berkembang sebagai karakter dan sebagai seorang Samurai mulai dari motivasi sampai peringatan soal apa yang akan terjadi jika Musashi membiarkan dirinya dibutakan oleh rasa haus akan kekuatan. Tidak hanya karakter saja, Oni Gauntlet dan semua kekuatan yang akan kita dapatkan sepanjang cerita juga menjadi cara yang menarik untuk memperhatikan bagaimana Capcom mengembangkan karakter Musashi. Oni Gauntlet memberikan kekuatan yang instan, sesuatu yang jelas tidak disukai oleh Musashi. Hal ini kemudian berhasil dikembangkan dengan sangat baik oleh Capcom karena kita akan melihat bagaimana hal ini akan mempengaruhi cara pandang Musashi terhadap kekuatan dan apa itu artinya hidup dalam jalan pedang. Sekali lagi, semua tidak terlepas dari kehadiran pada karakter tambahan yang kuat dengan masing-masing karakter juga memiliki akhir arc yang amat sangat memuaskan. Bahkan penulis juga berani mengatakan pengembangan karakter Musashi ini juga tercermin dengan baik dalam combat karena meskipun Musashi mendapat kekuatan instant dari Oni Gauntlet, semua tidak akan berguna jika pemain/Musashi tidak terus berlatih dan belajar untuk menggunakan teknik dan kekuatan tersebut.

Combat Yang Memuaskan

vlcsnap-2026-09-05-19h41m17s087

Bicara soal combat, selain serangan dasar one-handed dan two-handed kita akan sangat bergantung pada 4 elemen dasar lainnya. Deflect akan membantu mengurangi energi musuh hingga mereka siap untuk dieksekusi, Parry berfungsi untuk menghilangkan keseimbangan musuh dan setelah upgrade juga berfungsi memanaskan pedang Musashi untuk damage ekstra, dodge seperti judulnya adalah untuk menghindar namun setelah upgrade akan ditambah dengan gauge yang bisa diisi untuk counter-attack dan Issen, mekanik terbaik diantara semuanya. Sebuah counter-attack super kuat yang bisa dilakukan tepat sebelum musuh menyerang, sebuah mekanisme high risk, high reward yang sangat memuaskan dan sangat-sangat well designed apalagi ketika upgrade chain issen terbuka nantinya dan jumlah Genma yang bisa diissen oleh Musashi bertambah semakin banyak dilengkapi dengan animasi yang super fluid nan stylish. Bahkan tidak hanya serangan pedang saja, pada akhirnya juga akan ada upgrade yang memungkinkan Musashi melakukan Issen terhadap serangan proyektil seperti anak panah contohnya

 

Bukan berarti 3 mekanik lainnya tidak memuaskan. Bahkan jika kebanyakan pemain Onimusha klasik atau para perfeksionis pasti ingin menjalankan sebuah run issen only agar lebih menantang, menurut penulis akan jauh lebih memuaskan jika pemain mencampurkan ke 4 mekanik ini dan menentukan mana yang paling cocok untuk digunakan berdasarkan situasi atau tipe serangan musuh. Ini khususnya sangat kentara pada boss fight karena setelah beberapa kali berhadapan dengan boss, akan sangat bisa diperhatikan beberapa serangan seakan dirancang untuk reaksi tertentu. Misalkan jika boss mengeluarkan serangan fisik tanpa menggunakan kapak/pedangnya, akan lebih rewarding jika pemain menggunakan dodge untuk mengisi gauge counter-attack. Tapi sekali lagi, meskipun terlihat seakan dirancang secara khusus, menggunakan reaksi lain juga tidak akan salah karena tetap akan disajikan dengan animasi yang sangat keren. Favorit penulis sendiri adalah ketika berhasil melakukan parry dan terlihat jelas bagaimana pedang Musashi memanas akibat parry tersebut.

 

Ada 2 mekanik combat lainnya yang bersifat minor yaitu blade locking dan blade barrage. Blade Locking cukup standard dimana pemain hanya harus melakukan button mashing untuk keluar dari situasi ini dan memberikan reward yang sama dengan melakukan deflect dan parry. Sementara blade barrage adalah semacam QTE dimana pemain harus melakukan serangan yang berbeda dari musuh agar berhasil keluar. Sebagai contoh jika musuh melakukan serangan two-handed, maka harus dibalas dengan serangan one-handed. Kedua situasi ini bisa terjadi pada Genma biasa atau boss, namun Blade Barrage juga dibarengi dengan animasi dan koreografi yang sangat indah dan memberikan rasa kepuasan yang lebih ketimbang Blade Locking.

 

Mekanik aktif lainnya adalah Oni Armanent. Ini adalah serangkaian senjata spesial buatan Oni dengan kekuatan dan efeknya masing-masing namun memerlukan jiwa biru dari musuh untuk bisa diaktifkan. Namun cukup disayangkan senjata-senjata ini tidak memiliki lebih dari 1 moveset sebelum harus diisi lagi oleh jiwa biru. Untungnya hal ini tertolong dengan koreografi yang stylish dan upgrade yang menambah efektifitas mereka.

Terlalu Mudah?

vlcsnap-2026-09-16-09h30m05s558

Semenjak demonya dirilis, ada concern yang mengatakan bahwa game ini terlalu mudah. Apalagi cukup jelas terlihat bahwa Genma juga cenderung pasif dan seakan menunggu giliran untuk menyerang Musashi. Meskipun musuh yang pasif ini adalah salah satu kekurangannya dan tingkat kesulitan adalah sesuatu yang subjektif, penulis cukup senang untuk melaporkan bahwa hasil akhirnya tidak sesederhana itu.

 

Jam-jam awal Way of The Sword bisa dianggap sebagai tutorial. Kyoto dan misi-misi cerita awal akan membantu mengajarkan pemain untuk menguasi teknik-teknik dasar. Seiring waktu, Genma juga akan menjadi semakin kuat. Mereka akan memiliki serangan yang lebih kuat, timing issen yang lebih sempit, dan tentu variasi musuh yang bahkan tidak akan langsung lumpuh hanya dengan 1 issen saja. Bisa dijamin, jika diawal pemain akan merasa arogan dan kuat, hal itu tidak akan bertahan lama dan Way of The Sword perlahan-lahan akan membuat pemain merasa humble apalagi bagi mereka yang mengabaikan mekanik-mekanik dasar.

 

Tapi hal ini juga menimbulkan sebuah masalah dari sisi upgrade.

Upgrade Terasa Pointless

vlcsnap-2026-09-16-09h52m36s384

Way of The Sword menyediakan 3 kategori upgrade. Perlengkapan Musashi, Ability Musashi, dan Kekuatan Oni termasuk juga Oni Armanent. Yang mejadi masalah adalah perlengkapan Musashi yang juga terbagi lagi menjadi 3 yaitu Armor, Pedang, dan Oni Gauntlet. Seharusnya ketiga hal ini akan membuat Musashi semakin kuat namun karena para Genma dan Boss juga seakan-akan ikut menguat dengan level yang sama dengan Musashi, upgrade menjadi terasa tidak berguna. Serangan Musashi terasa sama saja, boss tidak lebih cepat bisa dikalahkan, kita masih tetap harus bergantung dengan teknik yang kita pelajari, yang ada proses upgrade ini malah terasa buang-buang waktu mengingat materialnya yang harus kita cari dengan melakukan eksplorasi hub Kyoto. Yang mana ini akan bersambung dengan masalah berikutnya: semi-open world.

Semi-Open World

vlcsnap-2026-09-16-10h02m41s278

Satu hal yang tidak disangka-sangka hadir pada Way of The Sword adalah Semi-Open World lengkap dengan area-area yang terkunci dan akan terbuka sesuai progress, side quests, dan resource yang bisa kita temukan dengan eksplorasi. Meskipun Kyoto bukanlah tempat yang terlalu besar untuk dieskplorasi, kehadirannya cukup untuk membuat jam-jam awal terasa lambat. Side quest, atau lebih tepatnya chance encounters dengan para warga Kyoto terasa tidak menarik sama sekali karena seringnya kita hanya akan diminta untuk datang ke poin a, basmi genma, lapor balik, dan selesai. Namun pujian perlu disampaikan pada side quest Mysteries of Kyoto yang akan kita jalankan atas perintah Lady Murasaki karena justru side quests ini malah memberikan cerita-cerita horror singkat berdasarkan dari mitologi Jepang, apalagi diperkuat dengan pendapat akhir dari Lady Murasaki pada setiap akhirnya dan reaksi komedik Musashi terhadap legenda dan situasi yang terasa absurd ini. Namun sayangnya lagi, side quest ini hanya memberikan reward kosmetik saja. Eksplorasi Kyoto ini juga dilengkapi dengan rift tempat para Genma menyebrang dari neraka ke dunia manusia dan pemain akan bisa menghancurkannya dengan membunuh para Genma dan menyerap rift setelah semuanya selesai. Lama kelamaan, pembasmian rift ini terasa repetitif apalagi mereka akan selalu memunculkan 2 tipe miniboss yang sama. Well, penulis memiliki satu miniboss favorit karena memberikan combat yang memuaskan. Tapi jika dilihat dengan lebih luas, dipaksa untuk selalu melawan 2 boss yang sama secara berulang-ulang demi resource pasti akan terasa membosankan juga.

Performa PC

vlcsnap-2026-09-16-10h17m40s886

Sepertinya tidak perlu banyak yang dibahas mengenai game jebolan RE Engine pada PC. Performa pada PC sangat optimized dan sepertinya memiliki beban yang lebih ringan ketimbang Pragmata ataupun RE: Requiem. Dengan art style gamenya, ray tracing sepertinya juga tidak terlalu perlu diaktifkan. Dengan 5070 Ti dan DLSS Performance Super Resolution Model L tanpa frame generation dan resolusi 4K, penulis bisa mendapatkan FPS diatas 60. Namun sepertinya ada bug yang menyebabkan timing issen menjadi lebih sempit jika mendapat FPS diatas 60. Belum lagi ada sebuah bug yang menyebabkan crash jika mengunjungi bagian Kyoto paling ujung kiri jika menggunakan settingan rata kanan. Semoga hal ini bisa segera diperbaiki pada patch selanjutnya.

Kesimpulan

vlcsnap-2026-09-16-10h23m31s315

Capcom berhasil membangkitkan Onimusha dengan cukup sempurna, dengan kekurangan-kekurangan yang sangat bisa dimaafkan dan menurut penulis, Way of The Sword berhasil menjadi grand closing 2026 bagi Capcom. Langkah awal yang baik juga mengingat komitmen Capcom baru-baru ini yang ingin membangkitkan IP klasik mereka. Bagi yang ingin terjun ke dalam dunia Onimusha, atau yang sekedar ingin memainkan judul action hack-and-slash yang solid bertemakan Jepang dan Samurai, Way of The Sword adalah pilihan terbaik saat ini, bahkan dengan full price sekalipun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share with